Sejarah Panel Surya

Seperti kita ketahui, matahari merupakan sumber dari energi penerangan yang paling besar di dunia. Adapun contoh dari energi ini adalah matahari, api, bintang, kilat, bulan dan lain sebagainya. Dengan adanya energi ini maka ketika kita berada di tempat yang gelap akan terlihat terang. Terkadang energi ini juga disebut sebagai energi surya karena sebenarnya sumber dari penerangan berasal dari tenaga surya atau matahari.
Tidak hanya di kota-kota besar saja, di daerah-daerah terpencil juga sudah banyak yang mengaplikasikan teknologi sel photovoltaic ini. Nama photovoltaic ini sendiri diambil dari bahasa Yunani yaitu phos yang berarti cahaya dan volta yang berarti listrik. Bahkan, penggunaan istilah photo-volta ini sudah digunakan sejak tahun 1800-an di Inggris.
Awalnya tenaga listrik dari cahaya matahari pertama kali ditemukan oleh seorang ahli fisika dari Perancis, pada tahun 1839 yang bernama Alexandre Edmund Becquerel, dia mencoba menyinari dua electrode dengan berbagai macam cahaya untuk menjadi energy, namun tidak membuahkan hasil, nah dari sinilah cikalbakal energy listrik Panel Surya / Panel Surya terjadi.
Akhirnya pada tahun 1873 Willoughby Smith menemukan Selenium, yang berfungsi sebagai suatu elemen photo conductivity. Kemudian di tahun 1876, William Grylls bersama dengan muridnya Richard Evans Day, mengungkapkan bahwa Selenium dapat mengubah tenaga matahari secara langsung menjadi listrik tanpa ada bagian bergerak atau panas.
Tahun 1883, Charles Fritz mencoba melakukan penelitian dengan melapisi semikonduktor Selenium dengan lapisan emas yang sangat tipis. Photovoltaic yang dibuatnya menghasilkan efisiensi kurang dari 1 %. Perkembangan berikutnya yang berhubungan dengan ini adalah penemuan Albert Einstein tentang efek fotolistrik pada tahun 1904. Tahun 1927, photovoltaic dengan tipe yang baru dirancang menggunakan tembaga dan semikonduktor copper oxide. Namun kombinasi ini juga hanya bisa menghasilkan efisiensi kurang dari 1 %.
Pada akhirnya di tahun 1941, seorang peneliti bernama Russel Ohl berhasil mengembangkan teknologi sel surya dan dikenal sebagai orang pertama yang membuat paten peranti Panel Surya modern. Bahan yang digunakan adalah silicon dan mampu menghasilkan efisiensi berkisar 4%.
Berpatokan pada teori yang dikemukan Einstein tersebut, banyak ilmuwan dari berbagai negara yang kembali mencoba mengembangkannya. Pada tahun 1954, pihak Bell Laboratories berhasil menemukan lempeng yang sangat tepat untuk digunakan sebagai bahan dasar Panel Surya. Penemuan yang dilakukan oleh Daryl Chapin, Calvin Souther Fuller dan Gerald Pearson secara tidak sengaja menemukan bahwa silicon yang digabungkan dengan unsur-unsur di dalam logam utama yang dihasilkan dari proses ekstraksi ternyata sensitif terhadap cahaya. Hasil penemuan ketiga ilmuwan inilah yang kemudian menjadi tonggak penggunaan dan pengembangan teknologi Panel Surya sampai saat ini.
Secara umum di Indonesia, seluruh energi listrik yang masyarakat gunakan, masih di suplai dan diatur oleh PLN (Perusahaan Listrik Negara). Sedangkan untuk aplikasi teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sudah bisa digunakan untuk kebutuhan pribadi dan malah sudah membantu masyarakat untuk mengurangi biaya listrik PLN. Sekarang ini Panel Surya sudah sangat berkembang pesat, dimana cahaya matahari yang diterima oleh Panel Surya sudah dapat disimpan pada baterai, untuk digunakan kemudian hari. Di negara-negara maju sudah menggunaan teknologi Panel Surya untuk merambah ke dunia otomotif, dimana diciptakannya mobil-mobil dengan energi matahari dan danau buatan untuk menampung Panel Surya, yang berfungsi sebagai energi listrik di wilayah tersebut.
Demi menjaga kelesatrian alam yang sekarang sudah semakin memprihatikan akibat global warming, dan menipisnya sumber daya alam seperti energi batubara. Kenapa tidak mencoba untuk beralih dengan menggunakan sumber energi matahari yang ramah lingkungan, aman dan menghemat biaya listrik ?.