Apa Itu Solar Panel?

Panel surya atau solar panel merupakan komponen terpenting dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Solar panel berfungsi untuk menyerap energi dari cahaya matahari yang dikonversikan menjadi energi listrik yang dapat digunakan. Terdiri dari beberapa sel kristal silikon yang berfungsi untuk menangkap partikel-partikel energi dari cahaya matahari/surya yang menghasilkan proton untuk membentuk atom sebagai elemen pembentuk arus listrik.
 
Panel solar juga sering disebut dengan sel photovoltaic (PV) yaitu sistem pemanfaatan frekuensi dari energi surya/matahari menjadi energi listrik yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Mekanisme cara kerja PV yakni matahari melepaskan spektrum-spektrum frekuensi tertentu dimana setiap frekuensi tersebut memiliki energi yang berbeda. Setiap spectrum memiliki elektron, kemudian elektron tersebut digunakan pada solar panel untuk dikonversikan menjadi listrik yang dikonsumsi oleh beban.
Contoh sederhana penggunaan sel PV yang sering ditemukan dalam kegiatan sehari-hari, yaitu dapat dilihat pada kalkulator (alat penghitung) yang menggunakan sel PV. Jenis perangkat sel PV hanya menggunakan sejumlah kecil energi listrik untuk dapat bekerja dan bahkan dapat digunakan didalam ruangan dengan mengganti cahaya matahari dengan cahaya dari lampu.
 
Solar panel sebagai sistem tenaga surya yang lebih efisien dan lebih terjangkau untuk mengambil keuntungan dari manfaat ekonomi atau lingkungan, baik secara penggunaan di rumah, perkantoran maupun di tempat umum yang membutuhkan penerangan jalan. Ketika matahari muncul di permukaan, panel surya menyediakan energi yang dibutuhkan untuk semikonduktor yang menghasilkan arus satu arah (DC), untuk mengalirkan energi listrik ke beban perabotan yang akan digunakan, maka dibutuhkanlah inverter sebagai alat perantara dari arus DC tersebut. Hal ini diperlukan untuk mengubah arus DC, yang dihasilkan oleh rangkaian solar panel, menjadi AC sehingga dapat digunakan untuk peralatan listrik di rumah serta yang menggunakan jaringan listrik sebagai penggeraknya.
Berdasarkan teknologi pembuatannya, secara umum solar panel dibagi dalam tiga tipe, yaitu Monocrystalline, Polycrystalline, dan Thin Film Photovoltaic namun dalam perkembangannya hanya dua tipe mono dan poly solar panel saja yang banyak dipasaran, karena dengan penggunaan dua solar panel ini cahaya matahari yang ditangkap lebih baik dan maksimal.
 
Monocrystalline
Merupakan panel yang paling efisien yang dihasilkan dengan teknologi terkini dan menghasilkan daya listrik yang paling tinggi. Monocrystalline dirancang untuk penggunaan yang memerlukan konsumsi listrik besar pada tempat-tempat yang beriklim ekstrim bahkan dengan kondisi alam yang sangat gersang. Tipe ini memiliki efisiensi lebih dari 20%, namun dibalik kelebihannya pasti memiliki kelemahan yakni tidak dapat berfungsi dengan baik pada saat cahaya matahari redup (matahari tertutup awan/mendung), ini menyebabkan efisiensi monocrystalline akan turun secara drastis, dikarenakan monokrital memiliki toleransi terhadap suhu yang tinggi.
 
Secara fisik monocrystalline berwarna hitam karena berasal dari kristal silikon murni yang berbentuk bundar atau segidelapan (tepatnya segi empat yang dipotong diempat sisi-sisinya). Bentuk dari monocrystalline merupakan hasil dari proses pembuatannya yang berasal dari silikon ingot yang dipotong, yang sekaligus menjadikan kekurangan dari monocrystalline ini, karena memiliki tingkat kerapatannya yang rendah. Bisa saja produsen membuat bentuk persegi dengan proses pemotongan, tetapi kerugian proses produksi tentu akan menjadi lebih besar dan menjadikan harga jauh lebih mahal lagi pastinya.
 
Polycrystalline
Tipe solar panel ini memiliki susunan kristal secara acak dan diproduksi dengan proses pencetakan/pembentukan. Tipe dari polycrystalline ini memerlukan luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan jenis monocrystalline yang menghasilkan daya listrik yang sama. Solar panel tipe ini memiliki efisiensi lebih rendah dibandingkan jenis monocrystalline, sehingga harga yang cenderung lebih murah.
Karena menggunakan cetakan, polycrystalline bisa dibentuk sesuai kebutuhan dan sering kali tidak merata, hal ini menyebabkan polycrystalline seperti mempunyai motif guratan–guratan biru yang dihasilkan benih silikon kristal yang dileburka kemudian didinginkan. Dengan bentuknya yang persegi, maka kerapatan polycrystalline cukup bagus dan mampu mendapatkan energi dari matahari walaupun matahari tertutup awan (cuaca mendung).